Selasa, 16 Jul 2024
Opini

Selamat Jalan, Mas Yudhis…

Oleh Sabpri Piliang

Innalillahi Wainnaillaihi Rojiun. “Setiap yang bernyawa pasti kembali ke pemilik-Nya. Tanpa terkecuali”. Mas Yudhis, demikian Kami sekantor redaksi Majalah Mingguan Berita (MBM) EDITOR memanggilnya. Nama lengkapnya Yudhistira ANM Massardi. Saya, dan Mas Yudhis termasuk berbarengan bergabung menjadi awak redaksi Majalah pecahan “TEMPO” ini, Januari 1988.

Mengenal almarhum, yang berpulang 2 April 2024 malam ini, serasa sangat membanggakan. Banyak belajar menulis “Puisi”, “Sajak”, “Novel”, “Feature”, “Hard News”, “Editorial”, “Pojok”, dan “Opini”, hingga tingkat mahir yang saya rasakan saat ini. Adalah satu anugerah. Bagi saya, almarhum adalah “mahaguru” mumpuni, di samping beberapa guru lain alumni MBM Tempo: Marah Sakti Siregar, Eddy Herwanto, Musthafa Helmi, Surasono.

Tak pernah saya lupakan, saat mengintip, dan “mencuri ilmu” menulis “Mas Yudhis”. Kebetulan di akhir 80-an hingga di “breidelnya” MBM EDITOR-TEMPO-Detik Tabloid Juni 1994, meja kerja saya dan Mas Yudhis berdekatan.

Acapkali setelah “deadline” usai, saya ditawari untuk membonceng mobil dinas “Toyota Hiline” warna putih Mas Yudhis, untuk ikut hingga kawasan Tugu Pancoran. Selanjutnya almarhum Pulang ke Bekasi, dan saya nyambung “omprengan” ke kawasan Jatinegara. Biasanya, Kami “Deadline” Senin sore hingga Selasa jam 03.00 WIB.

Yudhistira ANM Massardi, adalah pujangga dan sastrawan yang sangat “disegani di kalangan seniman. Tak salah, bila Kelahiran Subang (Jawa Barat) 70 tahun lalu ini, bisa disejajarkan dengan sastrawan besar: Sitor Situmorang, Sutarji Chalzoum Bachri, dan Abdul Hadi. Salah satu karya Yudhistira ANM Massardi, “Sajak Sakit Gigi”, terpilih sebagai satu di Antara empat buku puisi terbaik, tahun 1976-1977.

Karya besar lain dari “Mas Yudhis” dalam bentuk Cerpen: “Penjarakan Aku Dalam Hatimu” (1979), “Wanita Dalam Imajinasi” (1994).

Tahun 1979 (SMA), saat belum mengenal Mas Yudhis, saya menonton sebuah film remaja. “Arjuna Mencari Cinta”. Bintang keren yang menjadi peran utama kala itu. Kalau tak salah Herman Felani & Muthia Datau. Jujur, film ini sempat saya tonton hingga tiga kali. Novel karya Yudhistira ANM Massardi (1977) ini, memang keren banget. Narasi & diksinya, sungguh “benchmarking” dan ‘ikon’ anak remaja 80-an banget. Beberapa Novel karya almarhum lainnya: “Arjuna Wiwahahaha” (1984), “Mencoba Tidak Menyerah” (1979), dan “Obladi-Oblada” ((1978).

Suatu sore 1989, selepas makan siang. Saya melihat sesosok “pesohor” yang sangat terkenal. Duduk di bangku ruangan tamu MBM EDITOR di kawasan Mayestik. Tepatnya Jalan K.H. Ahmad Dahlan. Saya sapa. “Bung Franky (Franky Sahilatua), mau ketemu siapa?”. Oh, “Saya menunggu Yudhistira. Tapi sudah diberi tahu resepsionis,” kata penembang (bersama adiknya Jane) “Kepada Angin dan Burung”, karya Yudhistira Massardi.

Tak lama setelah itu, munculah lagu-lagu ‘hits’ Franky & Jane karya Yudhistira Massardi berirama “Country”: “Perjalanan”, “Dari Sepi Kembali ke Sepi”, “Palabuhan”, “Nyanyian”, “Benua Baru”, dan “Kepada Angin dan Burung”. Sepenggal lirik fragmentasi lagu

    PERJALANAN

“Dengan kereta malam 

 Ku Pulang Sendiri

 Mengikuti langkahku…”



Baca Juga