Selasa, 23 Jul 2024
Opini

Momentum Politik: Kucari Engkau Lari, Aku Diam Kau Hampiri

Oleh: Khaidir Asmuni

Momentum politik pembentukan koalisi dan upaya meraih perahu lebih tepat dikaji secara fisika ketimbang secara akuntansi. Sebab, hadirnya momentum politik tidaklah berdasarkan faktor kemampuan modal finansial, melainkan pada kekuatan atau gaya yang diperoleh melalui gerakan atau serangkaian peristiwa yang terjadi. Rangkaian peristiwa itu bersifat tak terduga, random, dan sulit dirumuskan.

Tanpa gerakan atau serangkaian peristiwa yang mendukungnya, momentum sulit tercipta. Ibarat kita mendorong mobil dalam posisi mobil berhenti, walau berhadapan dengan batu kerikil yang kecil pun akan sangat sulit melewatinya. Berbeda ketika ada serangkaian gerakan, misalnya mobil itu memiliki kecepatan, maka batu sebesar ember pun akan bisa dilompati.

Serangkaian peristiwa atau gerakan yang terjadi dalam momentum politik biasanya kita kenal dengan dinamika politik yang terjadi melalui berbagai variabel-variabel yang muncul. 

Dinamika politik itu akan sangat menonjol pada saat saat tertentu. Salah satunya ketika terjadi penentuan pasangan calon koalisi dalam pilkada. Karena saat itulah pergerakan akan sangat kencang dengan desingan dan seliweran peristiwa. Dia dapat berupa manuver, gerakan intelijen hingga peristiwa peristiwa di luar perhitungan.

Jujur saja, manuver politik tidak boleh bertujuan tunggal. Dia sebaiknya bercabang, sentrifugal dengan spektrum yang luas. Ketika manuver berpeluang untuk berpadu dengan perundingan dan diplomasi, maka ada peluang perbaikan bidak.

Manuver berkaca mata kuda tak akan menguntungkan. Sebaliknya, dia merupakan bagian dari perbaikan bidak. Setelah konflik harus ada transaksi. Setelah transaksi ada tujuan yang hendak dicapai. Yang harus diingat, manuver yang berkelas tidak bertujuan yang bersifat nominal atau akutantif. Tapi lebih pada upaya “merayu” agar terjadi momentum untuk mencapai tujuan. Dari sini posisi politik (bidak) diharapkan mendapat tempat terbaik.

Sejauhmana kita bisa membaca peluang dalam meraih momentum politik terkait koalisi yang win win solution? Atau setidaknya bidak yang dimainkan mencapai equilibrium antara untung dan rugi dalam interaksi komponen yang bertransaksi?

Kembali pada dinamika politik. Dalam Pilpres 2024 lalu, kita melihat hubungan antara Anies Baswedan dan AHY yang antiklimaks (ini hanya segelintir contoh). Dan munculnya komposisi cawapres yang tak terduga (baca: Gibran). Implikasinya menarik, yang berujung diraihnya posisi Menteri dari Demokrat di Kabinet. Dan majunya Gibran sebagai cawapres.

Hanya saja kondisi seperti ini tidak dapat didisain. Karena momentum politik lebih relevan dikaji secara fisika ketimbang akuntansi. Kita tidak bisa memudahkannya dengan bertanya berapa harganya atau beli dimana. Ketika momentum itu kita cari, dia terasa berlari, namun ketika kita diam, dia menghampiri. (*)

Aktivis Democracy Care Institute (DCI)

 



Baca Juga