Selasa, 16 Jul 2024
Opini

Misteri Perilaku Pemilih di Pilkada: Meraba Belalai Gajah dengan Mata Tertutup

Oleh: Khaidir Asmuni

Apakah berbicara soal Cambridge Analytica terasa sangat tinggi di Pilkada? Apakah pembicaraan tentang peranan media sosial dalam pilkada masih dianggap tidak relevan? Jawabannya akan bergantung situasi dan kondisi yang riil di daerah. Meski sangat sulit lepas dari pengaruh media sosial.

Sulit ditampik hal tersebut merupakan bagian dari upaya membaca perilaku pemilih. Dalam Cambridge Analytica, data data diolah sedemikian rupa dan dilakukan personalisasi iklan. Dengan membaca data dan profil pengguna dapat diketahui bagaimana jumlah like dan apa yang dipikirkan pengguna. Terlepas adanya pelanggaran terhadap platform facebook, cara itu dinilai menciptakan hal besar dalam pemilu AS dan Brexit.

Namun, bisa saja kita mengabaikan peran dunia maya itu dalam pilkada dimana terjadi perang nyata secara teritorial di lapangan. 

Saat ini, pandangan dalam meraih suara dan simpati masyarakat terbelah. Sebelumnya, masalah perilaku pemilih akan dimanja. Kebutuhannya akan dipenuhi. Biasanya melalui transaksi politik. Namun, pandangan ini menghadapi risiko terjadinya split diluar dugaan.

Karena perubahan perilaku yang sangat sulit diprediksi dan terukur muncullah teori kedua. Yaitu dengan melakukan pertarungan mobilisasi segenap sumber daya yang dimiliki oleh calon kada pada detik-detik akhir Pilkada. Istilah main sore agar dapat menghemat amunisi.

Tentunya untuk menerapkan teori ini dua hal yang menonjol adalah keberadaan relawan dan mesin partai. Diyakini, mesin partai dan relawan yang kuat akan mencegah terjadinya split suara (swing voter).

Ini juga menjawab pertanyaan, mengapa sebuah “investasi politik” yang dibangun seorang calon, kandas di detik detik akhir.

Meskipun begitu, calon kada tidak bisa hanya mengandalkan pengerahan kekuatan di detik akhir. Sebab, jika pengkondisian suara tidak dilakukan sejak dini maka kekuatan itu akan zonk. Pasalnya, adakalanya kompetitor menerapkan “jaga lilin” sejak awal, yang sangat susah untuk didobrak.

Investasi politik yang dilakukan sejak awal ini dipandang efektif untuk menjaga suara di detik detik akhir pemilihan.

Dari penjelasan di atas, hal yang bijaksana adalah tidak mengabaikan media sosial dan perkembangan teknologi informasi yang berkembang di masyarakat. Sebab bagaimanapun juga terjadinya post-truth yang tersebar di media sosial, disebabkan oleh informasi yang berulang-ulang, yang meskipun itu bohong lama-kelamaan menjadi hal yang benar. Secara politis ini tentu tidak menguntungkan.

Perilaku pemilih bisa berupa bahasa tubuh. Dia adalah alat yang ampuh untuk menganalisis perilaku seseorang. Google menyebut hal ini melibatkan interpretasi isyarat nonverbal, seperti ekspresi wajah, gerak tubuh, dan postur tubuh, untuk mendapatkan wawasan tentang pikiran dan perasaan seseorang. Semua bisa diperoleh dari pertemuan langsung dan mambaca data di media sosial. 

Inipun tidak menjamin perilaku pemilih secara pasti. Membaca Perilaku pemilih di pilkada seperti meraba belalai gajah dengan mata tertutup. Kita akan menggambarkannya seperti ular. (*)

Aktivis Democracy Care Institute (DCI)

 



Baca Juga