Selasa, 16 Jul 2024
Opini

KEARIFAN IBUNDA THOMAS EDISON

 

Oleh Hamid Basyaib

 

THOMAS EDISON, murid kelas tiga sebuah sekolah dasar, suatu hari pulang lebih awal dari sekolahnya. Ia diminta oleh Kepala Sekolah untuk menyampaikan surat kepada ibunya.

Sesampai di rumah, ia menyerahkan surat itu, dan Ibu Thomas segera membacanya. Lalu airmatanya mengucur tak terbendung.

Thomas bertanya, apa isi surat itu dan kenapa ibunya menangis. Ibunya tak menjawab, tapi membacakan surat itu dengan suara keras: “Anak Ibu adalah seorang jenius. Sekolah ini terlalu kecil baginya dan tidak memiliki cukup guru yang baik untuk mendidiknya. Silakan Ibu ajari dia sendiri.”

Itu adalah pesan yang sangat jelas bahwa Thomas, anak bungsu dari tujuh bersaudara, diberhentikan dari sekolahnya. Maka ibunya kemudian melakukan apa yang persis disarankan oleh Pak Kepala Sekolah. Ia mengajar sendiri anaknya dengan tekun, sabar dan dedikatif.

Kerja keras, kesabaran dan ketekunan ibu Thomas dalam mendidik anaknya membuahkan hasil yang melampaui harapan. Thomas pun mewarisi ketekunan ibunya. Ia dengan cepat menunjukkan bakat besar dalam urusan mekanik, selain rajin melakukan bermacam-macam eksperimen kimia.

Lalu ia menjelma salah satu inventor terbesar di dunia, dan memegang hak paten yang sangat banyak — ada yang mengatakan hingga seribu buah; bola lampu pijar hanya salah satu yang paling terkenal. Ia juga mendirikan perusahaan yang sampai sekarang menjadi salah satu grup bisnis terbesar dan paling mashur di dunia, General Electric.

Ibunya meninggal dunia dalam usia tua. Dan ketika Edison memeriksa barang-barang peninggalan sang ibu, ia menemukan surat Kepala Sekolah di masa ia duduk di SD dulu. Ia segera membuka dan membacanya:

“Anak Ibu mengidap gangguan mental. Kami tidak akan mengizinkannya datang ke sekolah lagi.”

Saat itulah Edison baru menyadari apa yang telah dilakukan ibunya untuknya puluhan tahun lalu. Ia kemudian menulis di buku hariannya: “Thomas Alva Edison adalah seorang anak yang lamban yang, berkat ibu pahlawan, menjadi jenius abad ini.”

Bisakah Anda bayangkan apa yang mungkin terjadi pada Thomas Edison jika ibunya ketika itu membacakan untuknya kata-kata kasar dan menyakitkan yang ditulis oleh Pak Kepala Sekolah?

Ibunda Thomas Edison memilih untuk tidak berbuat seperti kebanyakan orangtua yang menerima surat semacam itu dari sekolah anaknya; yang biasanya kontan menginterogasi si anak tentang perbuatan apa yang dia lalukan di sekolah. 

Ia memilih menyusun skenario yang justeru membesarkan hati, membalik cerita dan menutupi kelemahan yang tampaknya ia ketahui memang diidap oleh anaknya. 

Ibu Thomas lalu menciptakan konteks di mana anaknya dapat tumbuh mencapai potensi penuhnya — suatu potensi yang luput dari pandangan guru-gurunya di sekolah.

Kisah Thomas Edison membuat kita, sebagai orangtua, sebagai orang dewasa, harus berpikir matang-matang sebelum menyampaikan suatu pesan kepada anak-anak.

Cerita Edison juga mestinya menginspirasi para guru tentang apa yang sebaiknya mereka katakan kepada murid-murid, terutama yang dianggap kurang berprestasi.

Perlakuan mereka, kata-kata mereka, akan terpatri abadi dalam diri anak-anak, dengan segala konsekuensinya. Pada kasus Thomas Edison, patri itu membuatnya menjadi penemu cemerlang berkat kearifan ibunya, Nancy Matthews Elliot.

Pada banyak kasus lain, pada anak-anak yang orangtuanya tak searif ibu Edison, mungkin yang terjadi sebaliknya. 

Tapi kabar baiknya: bersikap seperti Nancy Elliot, seorang ibu rumah tangga biasa di kampung kecil bernama Milan di Ohio, Amerika, sebetulnya sama sekali tidak sulit. ***



Baca Juga