Selasa, 23 Jul 2024
Kesehatan

Lonjakan Pandemi Covid-19 Kembali Landa Singapura

EKSPOS – Pandemi Covid-19 kembali menunjukkan peningkatan signifikan di Singapura. Menurut laporan Channel News Asia (CNA), jumlah kasus Covid-19 dari tanggal 5 hingga 11 Mei meningkat menjadi 25.900, hampir dua kali lipat dari 13.700 kasus pada minggu sebelumnya, menunjukkan kenaikan sebesar 90%.

Dalam rilis Kementerian Kesehatan (MOH), rata-rata rawat inap harian akibat Covid-19 juga meningkat dari 181 menjadi sekitar 250. Namun, jumlah kasus harian di perawatan intensif tetap rendah, hanya meningkat dari dua menjadi tiga kasus.

Situasi ini mendorong Kementerian Kesehatan untuk mengambil langkah-langkah memastikan kapasitas rumah sakit memadai. Warga Singapura diminta kembali memakai masker di tempat umum.

“Kita berada di bagian awal gelombang yang terus meningkat,” kata Menteri Kesehatan Ong Ye Kung kepada Strait Times, Selasa (21/5/2024).

Untuk mengatasi lonjakan ini, rumah sakit diminta mengurangi operasi elektif yang tidak mendesak dan memindahkan pasien yang memungkinkan ke fasilitas perawatan transisi atau melalui program perawatan mobile di rumah. Pasien yang dapat dirawat di rumah secara klinis juga akan diklasifikasikan ulang.

MOH menekankan pentingnya vaksinasi, terutama bagi kelompok berisiko tinggi.

Kung mendesak individu berusia 60 tahun ke atas, mereka yang rentan secara medis, dan penghuni fasilitas perawatan lansia untuk menerima dosis vaksin Covid-19 tambahan jika belum menerimanya dalam 12 bulan terakhir.

“Jika kasus Covid-19 berlipat ganda lagi, Singapura akan memiliki 500 pasien dalam sistem layanan kesehatan,” kata Kung.

“Namun, jika kasus meningkat dua kali lipat lagi menjadi 1.000 pasien, hal ini akan memberikan beban yang signifikan pada sistem rumah sakit,” tegasnya. “Seribu tempat tidur setara dengan satu rumah sakit daerah.”

Varian Covid-19 di Singapura

Saat ini, varian Covid-19 yang dominan secara global adalah JN.1 dan sub-garis keturunannya, termasuk KP.1 dan KP.2.

Di Singapura, lebih dari dua pertiga kasus merupakan varian KP.1 dan KP.2, yang dikenal dengan sebutan FLiRT.

Varian ini juga dominan di Amerika Serikat dan telah terdeteksi di negara-negara seperti China, Thailand, India, Australia, dan Inggris.

MOH menegaskan tidak ada indikasi bahwa KP.1 dan KP.2 lebih mudah menular atau menyebabkan penyakit lebih parah dibandingkan varian lainnya.

Namun, masyarakat diimbau untuk tetap mengikuti informasi terbaru tentang vaksinasi untuk perlindungan terhadap varian yang ada dan yang baru muncul.

“Saat ini tidak ada indikasi, baik secara global maupun lokal, bahwa KP.1 dan KP.2 lebih mudah menular atau menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan varian lain yang beredar,” kata MOH.

Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia mengatakan lonjakan kasus Covid-19 varian KP.1 dan KP.2 di Singapura berpotensi kecil mengancam kesehatan masyarakat Indonesia. Hal itu disebabkan karena sistem imun telah beradaptasi dengan virus Covid-19.

“Potensi covid menjadi krisis kemungkinan besar tidak berpotensi karena sampai saat ini semua orang memiliki imunitas terhadap covid,” katanya seperti dikutip pada Senin (20/5/2024).

Menurutnya, kasus Covid-19 memang memiliki virus yang terus bermutasi sehingga akan menciptakan varian-varian baru dan sampai saat ini varian tersebut belum terdeteksi di Indonesia.

Belum terdeteksinya Covid-19 dengan varian tersebut juga berhubungan tidak adanya gejala baru akibat paparan Covid-19.

Dia mengatakan sulit untuk mencegah varian tersebut di Indonesia, sehingga sampai saat ini pemerintah hanya melakukan pemantauan dari pasien yang mengalami gangguan pernapasan.

“Sulit untuk mencegah subvarian baru. Hanya monitoring surveilans genomik dan influenza like illness terus dilakukan untuk monitoring potensi peningkatan, atau kalau ada peningkatan kasus ispa yang dirawat di RS (Rumah Sakit),” paparnya.

Dia mengatakan pemerintah belum ada rencana untuk membatasi masuknya turis ke Tanah Air, terutama bagi mereka yang berasal dari Singapura.

Walaupun imunitas tubuh masyarakat Indonesia sudah dinyatakan beradaptasi dengan virus covid-19, Siti mengatakan lansia masih memiliki potensi besar terjangkit virus tersebut.

“Hanya risiko terutama pada lansia dan orang dengan komorbid yang tidak terkontrol,” paparnya.

Namun, dia mengimbau agar masyarakat tetap menggunakan masker saat di luar ruangan dan rajin mencuci tangan sebagai langkah preventif. Khususnya bagi lansia dan kelompok yang rentan terpapar Covid-19.

Lebih lanjut, ketika memang dinyatakan kasus covid-19 kembali menyerang Indonesia, pemerintah akan tetap menerapkan protokol kesehatan yang tertuang dalam Permenkes tentang Penanggulangan Coronavirus Disease 2019.

Seperti dirilis laman Kemenkes, hal itu juga dinyatakan oleh Ketua Tim Kerja Standarisasi klinis Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan, dr. Yayan Gusman, AAAK. Yayan mengatakan di masa endemik semua pelaksanaan penanganan pasien Covid-19 tidak ada yang berbeda dengan sebelumnya.

“Pengobatan tidak ada perubahan dan gejala ringan dan tidak ada komorbid tidak disarankan untuk menggunakan obat antivirus dan sebagainya. Pemberian terapinya kami kerja sama dengan seluruh profesi terkait,” jelas Yayan. (*)

 



Baca Juga