Selasa, 16 Jul 2024
Internasional

Rusia Dianggap Ancaman, NATO Serukan Semua Negara Tidak Memberi Bantuan Apapun

EKSPOS – Organisasi Pakta Atlantik Utara (NATO) menyatakan Rusia masih menjadi ancaman bagi aliansi militer. Pernyataan itu termaktub dalam Deklarasi KTT Washington yang ditetapkan di AS pada Rabu (10/7/2024).

“Rusia tetap menjadi ancaman paling signifikan dan langsung terhadap keamanan sekutu,” bunyi deklarasi tersebut.

Dalam pernyataan yang sama, NATO juga mendesak semua negara untuk tidak memberikan bantuan apa pun kepada Rusia. Menurut mereka, bantuan itu akan memberi jalan kepada Moskow untuk melanjutkan agresi militernya di Ukraina.

“Kami mendesak semua negara untuk tidak memberikan bantuan apa pun terhadap agresi Rusia. Kami mengutuk semua pihak yang memfasilitasi dan dengan demikian memperpanjang perang Rusia di Ukraina,” bunyi dokumen itu lagi.

NATO menggelar KTT di Washington DC, AS, dari Selasa (9/7/2024) hingga Kamis (11/7/2024). Seperti yang diduga, pertemuan puncak para pemimpin negara anggota aliansi militer Blok Barat itu lebih banyak menyoroti konflik Rusia-Ukraina.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan, dalam Deklarasi KTT Washington, aliansinya mengirimkan pesan yang kuat kepada Beijing tentang kerja sama China dengan Rusia.

“Deklarasi yang kami sepakati hari ini adalah pesan terkuat yang pernah dikirimkan sekutu NATO mengenai kontribusi China dalam perang ilegal Rusia melawan Ukraina, sehingga hal itu sendiri merupakan pesan yang kuat,” kata Stoltenberg saat konferensi pers di akhir hari pertama KTT NATO.

Deklarasi KTT Washington secara khusus menyerukan China untuk menghentikan semua dukungan material dan politik terhadap upaya perang Rusia. Barat beberapa kali menuduh Beijing diduga mengirimkan material yang memiliki kegunaan ganda, seperti komponen senjata, peralatan, dan bahan mentah yang berfungsi sebagai masukan untuk sektor pertahanan Rusia.

Amerika Serikat telah lama mencurigai bahwa perusahaan-perusahaan China memberikan dukungan militer kepada Rusia. Namun, tudingan itu dibantah oleh Beijing dan Moskow. (*)

 



Baca Juga