Selasa, 23 Jul 2024
Ekonomi

Tiga Maskapai Plat Merah Akan Dimerger

EKSPOS – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir berencana akan melakukan merger tiga maskapai penerbangan plat merah, yakni PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA), Citilink Indonesia dan Pelita Air. 

Menurut Erick, rencana ini merupakan salah satu upaya agar biaya logistik di Indonesia terus menurun sehingga meringankan dunia bisnis. Dorongan efisiensi terus menjadi agenda utama Erick pada perusahaan-perusahaan milik negara. 

Kendati demikian, kata Erick, Indonesia masih kekurangan sekitar 200 pesawat. Perhitungan itu diperoleh dari perbandingan antara Amerika Serikat dan Indonesia.

Erick menjelaskan, terdapat 7.200 pesawat yang melayani rute domestik di AS. Pesawat-pesawat tersebut melayani sekitar 300 juta penduduk AS yang memiliki rerata Pendapatan Domestik Bruto (PDB) mencapai US$40.000. 

Sementara itu, di Indonesia terdapat 280 juta penduduk yang memiliki PDB US$4.700. Hal tersebut berarti Indonesia membutuhkan 729 pesawat. 

“Padahal sekarang Indonesia baru memiliki 550 pesawat. Jadi perkara logistik kita belum sesuai,” ujar Erick dalam acara Indonesia Cafetalk di Tokyo, Jepang, Selasa (22/08/2023). 

Untuk mengurangi ketertinggalan jumlah pesawat tersebut, Erick mengatakan tidak menutup kemungkinan adanya penggabungan Garuda Indonesia, Citilink dan Pelita Air.

Dia menjelaskan, Kementerian BUMN terus berupaya menekan biaya logistik, salah satunya melalui upaya efisiensi dengan memerger perusahaan-perusahaan. Erick mencontohkan merger yang dilakukan pada PT Pelabuhan Indonesia atau Pelindo dari sebelumnya memiliki empat perusahaan menjadi satu.

Hal tersebut, terang Erick, berdampak pada penurunan biaya logistik dari sebelumnya mencapai 23 persen, menjadi 11 persen. 

“Kami juga upayakan Pelita Air, Citilink, dan Garuda merger untuk menekan cost,” ungkapnya. 

Erick menjelaskan, Garuda Indonesia telah berhasil diselamatkan setelah terancam dibubarkan. Dia mengatakan, GIAA pada akhirnya dipertahankan karena Indonesia tetap membutuhkan adanya flag carrier.

Sehingga upaya penyelamatan GIAA dilakukan melalui rangkaian restrukturisasi paling rumit dalam sejarah penyelamatan korporasi Indonesia. 

Bahkan, tutur Erick, saat Garuda Indonesia diperjuangkan pihaknya telah mempersiapkan maskapai pelat merah lainnya, yakni Pelita Air, untuk menjadi maskapai flag carrier Indonesia jika GIAA gagal diselamatkan. 

Sebelumnya, merger Pelindo secara resmi telah terlaksana dengan ditandatanganinya Akta Penggabungan empat BUMN Layanan Jasa Pelabuhan. 

Keempatnya adalah Perusahaan Perseroan (Persero) PT Pelabuhan Indonesia I, Perusahaan Perseroan (Persero) PT Pelabuhan Indonesia III, dan Perusahaan Perseroan (Persero) PT Pelabuhan Indonesia IV. Mereka melebur kedalam Perusahaan Perseroan (Persero) PT Pelabuhan Indonesia II yang menjadi surviving entity. (*)

 



Baca Juga